Selain Ukraina, Amerika Serikat Incar Tanah Jarang di area Negara Afrika Hal ini Senilai Rp391.080 Billion

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) sedang menjajaki kesepakatan dengan Republik Demokratik Kongo (DRC) untuk mengakses tanah jarang senilai Rp391.080 triliun sebagai imbalan melawan bantuan keamanan Amerika.
Seperti dilaporkan Financial Times bahwa kekerasan meningkat di area provinsi-provinsi timur negara yang mana kaya sumber daya itu pada bulan Januari, dengan militan kelompok M23 merebut beberapa kota penting. Periode lalu, Pertama Menteri Judith Suminwa memperkirakan bahwa konflik yang disebutkan telah lama menyebabkan 7.000 korban jiwa.
DRC telah terjadi berulang kali menuduh negara tetangga Rwanda menyokong militan, klaim yang dimaksud sudah digaungkan oleh Barat. Rwanda secara konsisten membantah tuduhan tersebut.
Pada hari Sabtu, FT mengutip sumber yang tersebut tiada disebutkan namanya yang digunakan menyatakan bahwa diskusi AS-RDK tentang kemungkinan kesepakatan mineral sudah pernah meningkat baru-baru ini, “meskipun beberapa kendala masih ada” juga “masih di tahap yang tersebut relatif awal.”
Bulan lalu, Tina Salama, juru bicara Presiden DRC Felix Tshisekedi, menulis di area X bahwa Kinshasa “mengundang AS, yang perusahaannya mendapatkan komponen baku strategis dari Rwanda, materi yang mana dijarah dari DRC kemudian diselundupkan ke Rwanda sementara penduduk kami dibantai, untuk membelinya secara langsung dari kami, pemilik yang mana sah.” Rwanda sudah pernah membantah terlibat di penyelundupan mineral.
Baca Juga: NATO Terancam Bubar, Eropa Bangun Koalisi Baru
Sebelum itu, Senator DRC Pierre Kanda Kalambayi mengirim surat terhadap Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio yang mana mengungkapkan bahwa “Amerika Serikat berada pada sikap yang baik untuk menjalin kemitraan yang mana langgeng dengan DRC – negara yang mana mempunyai lebih banyak dari USD24 triliun (setara Rp391.080 triliun) cadangan mineral penting yang mana belum dimanfaatkan.” Di antara sumber daya yang digunakan disebutkan adalah kobalt, yang tersebut sangat diminati oleh sektor kedirgantaraan dan juga pertahanan, dan juga litium, tantalum, dan juga uranium.
“Kinshasa berharap Washington meningkatkan kerja serupa militer, dan juga upaya untuk melatih lalu memperlengkapi militer DCR,” kata Kalambayi.
Sejak memangku jabatan pada bulan Januari, Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump telah lama menyatakan minatnya untuk mendapatkan akses ke deposit mineral penting di tempat luar negeri, khususnya di tempat Greenland kemudian Ukraina.
Kesepakatan mineral dengan Kiev diharapkan akan ditandatangani minggu lalu. Namun, perdebatan sengit antara pemimpin negara Ukraina Vladimir Zelensky lalu Trump di area Gedung Putih menunda proses tersebut. Trump menuduh Zelensky tiada menghormati, tak berterima kasih melawan bantuan Negeri Paman Sam dalam masa lalu, enggan mencari perdamaian dengan Rusia, juga “berjudi dengan Perang Bumi III.” Ia diminta untuk pergi serta kembali hanya saja ketika ia siap untuk pembicaraan serius.
Dalam sebuah posting dalam X pada hari Selasa, Zelensky mengindikasikan bahwa tanah Ukraina siap untuk melanjutkan pengaturan tersebut.





