Pasokan Gas Bumi Turun, DEN Anjurkan Impor Jaga Ketahanan Daya

JAKARTA – Pemanfaatan gas bumi sebagai bagian penting menjaga ketahanan energi nasional perlu terus diupayakan. Dalam jangka pendek, opsi impor perlu diadakan untuk memenuhi keperluan di tempat pada negeri di tempat sedang turunnya pasokan dari sumur tua eksisting akibat natural declining.
Anggota Dewan Tenaga Nasional (DEN) Abadi Poernomo mengungkapkan mengoptimalkan gas sebagai transisi menuju Net Zero Emission (NZE) pada 2060 tertuang di pembaharuan arah kebijakan di pembaruan Kebijakan Tenaga Nasional (KEN) yang ketika ini masih pada bentuk Rancangan Peraturan otoritas (RPP). Beleid ini merupakan revisi dari Peraturan eksekutif (PP) 79 tahun 2014 tentang KEN.
“Ketahanan energi kita ada di dalam skala 6,4 artinya cukup tahan. Kenapa dikatakan tahan artinya availability (ketersediaan), accessibility (aksesibilitas), affordability (keterjangkauan), juga acceptability (akseptabilitas) itu semua terjaga. Meskipun itu dijalankan dengan impor tetapi kita tahan,” ujar beliau pada diskusi ‘Memacu Infrastruktur Gas Menuju Swasembada Energi’ secara virtual, diambil Mulai Pekan (3/3/2025).
Menurut ia di area sedang menurunnya pasokan gas bumi akibat natural decline, ancaman terhadap ketahanan energi perlu diantisipasi. Oleh sebab itu kalau sekarang masih kekurangan gas, sedikit harus impor.
“Nanti kalau Masela kemudian Andaman sudah ada onstream, kelihatannya 78 sampai 100,3 MTOE (Mega Ton setara Minyak) bisa jadi terpenuhi oleh resources yang tersebut ada di dalam kita” jelasnya.
Sementara, Kepala Divisi Inisiatif serta Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Pertemuan Usaha Hulu Minyak lalu Gas Bumi (SKK Migas) Hudi D. Suryodipuro mengungkapkan cadangan gas dengan isi sangat besar sebagaimana dimaksud adalah temuan baru pada 2023 juga 2024.
“Kita berani bilang bahwa kita sekarang berada di dalam era gas. Penemuan 2023 oleh ENI (perusahaan Italia) di tempat Geng North-1 (Kalimantan Timur) kemudian pada 2024 oleh Mubadala Energy pada wilayah Andaman ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang digunakan dilirik oleh pemodal asing untuk mengeksplor kembali,” ungkap Hudi.
Meski begitu dibutuhkan waktu dan juga upaya yang digunakan besar termasuk memulai pembangunan infrastruktur untuk mengoptimalkan sumber baru gas tersebut. Ke depannya diyakini akan mencukupi seluruh keinginan gas bumi yang terus meningkat juga membantu target swasembada energi.
Berdasarkan Outlook The International Energy Agency (IEA) penyelenggaraan gas bumi masih akan stabil sampai tahun 2050 pada ketika konsumsi energi fosil lainnya mengalami penurunan signifikan.






